Bagi saya, puisi Kang Maman mengandung
style seorang mubaligh, yang menegaskan alur tema, estetika dan pesan sebagai bagian dari ungkapan seorang, dalam istilah KH. Fuad Hasyim; “tukang ngomong”
yang mengungkapkan realitas publik. Karena itu
sebagai penyair, Kang Maman tidak mengungkapkan puisinya dengan “bahasa yang rumit”.
Bahasanya mengalir, fikirannya bergulir sekaligus berusaha mengungkapkan keseluruhan tema yang hadir menyentuh intuisi serta sensitifitas rasionalnya.
Ia seolah ingin menegaskan, bahwa bahasa puisinya merupakan presentasi dari sosok Kyai pesantren yang sederhana dan bersahaja. Hal yang sama, saya kira, juga ditulis Gus Mus, Penyair dari pesantren Raudlotul Mubtadi’in – Rembang. Keduanya berangkat dari pesantren, sama-sama penulis dan mubaligh yang
mengeksplorasi kata-kata tidak berhenti pada
konteks oral, melainkan juga fikiran- fikiran
transendental tekstual.
Ahmad Syubanuddin Alwy
Budayawan, Penyair, Ketua DKC Cirebon.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar